Rabu, 15 April 2009

bisnis olahraga

Mendulang Emas di Bisnis Olah Raga
Posted by motulz on Apr 6, '07 10:33 AM for everyone
Olah Raga, nampaknya sebuah profesi yang tidak menarik perhatian di masyarakat Indonesia. Sejak lama mata pelajaran Olah Raga & Kesehatan (orkes) makin ciut berada di kurikulum pendidikan nasional. Ora Et Labora cuma menjadi slogan yang megah di pintu masuk lapangan olah raga saja. Pendidikan olah raga cukup dianggap kegaiatan mengisi waktu saja.

Menjadi Atlet

Profesi olah ragawan pun sama kondisinya. Profesi ini bukan profesi impian bagi anak-anak Indonesia. Kesan dari profsi ini adalah bagi orang-orang yang berotot saja, tanpa otak. Kesan yang sering disamakan dengan pengangguran (daripada gak ada kerja mending daftar klub).

Orang tua, hampir banyak sepakat untuk tidak mengarahkan anak-anaknya menjadi atlet (olahragawan). Tidak heran jika dampaknya adalah makin tipisnya re-generasi atlet di Indonesia. Parahnya lagi, kondisi minim calon atlet ini diperparah dengan system dan infrastruktur klub dan lembaga olah raga yang sarat dengan korup. Semua saling berlomba menghirup nafas agar bisa bertahan, sementara untuk cabang olah raga yang tidak favorit, ya tinggal menjadi kenangan saja.

Amerika Kapitalis Olah Raga

Amerika memang sudah dikenal sebagai negara superkapitalis. Ide-ide cemerlang dalam meraup keuntungan sudah tidak perlu diragukan lagi. Bagi Amerika, berbagai macam cara siap dilakukan demi tercapai keuntungan yang dahsyat nan abadi.

MTV, berhasil mengemudikan peredaran musisi seluruh dunia sebagai alat pendulang uangnya. Satu musisi lahir, satu musisi lenyap, semua dilakukan bak sebuah mesin uang.

Kembali ke olah raga, baru-baru ini salah satu orang terkaya di Amerika (ke 164), yaitu Stanley Kroenke dengan yakin membeli saham Arsenal. Ya.. salah satu klub besar dan favorit di Inggris. Maka lengkaplah sudah kepemilikan empat klub besar Inggris yang sudah dibeli oleh para kapitalis Amerika. Liverpool dibeli oleh George Gillet dan Tom Hicks. Randy Lerner membeli Aston Villa. Sebelumnya Malcolm Glazer menguasai MU.

Hal ini membuktikan bahwa :

1. Olah raga merupakan ladang bisnis yang menggiurkan (jika digarap dengan baik)
2. Atlet merupakan profesi yang terhormat
3. Amerika benar-benar cerdik melihat peluang bisnis

Bagaimana dengan olahraga Indonesia?? Masa iya dari 210 juta penduduknya tidak ada 100 orang hebat yang bisa dijadikan atlet tingkat internasional?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar